Ayat Panduan
"Yerikho telah menutup pintu gerbangnya; telah tertutup kota itu karena orang Israel; tidak ada orang keluar atau masuk. Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: 'Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan orang-orangnya yang gagah perkasa.'"
Yosua 6:1–2 (TB)
Konteks
Bangsa Israel berdiri di depan sebuah kota yang tertutup. Temboknya tinggi dan pintu gerbangnya terkunci. Tidak ada tanda tanda tanda untuk mendapatkan kemenangan. Tetapi Tuhan berkata, "Ketahuilah," lalu menyatakan sesuatu yang belum bisa dilihat Yosua: bahwa sesungguhnya kota itu sudah diserahkan. Dihadapannya berdiri Firman Tuhan dan rintangan yang berdampingan. Tuhan sesungguhnya telah terlebih dahulu mengubah cara pandang Yosua sebelum tembok itu berubah.
Perenungan
Apakah yang diperlihatkan Tuhan kepada saudara pada waktu sedang melakukan prayer walk?
Banyak dari kita melihat lebih banyak dari apa yang kita duga. Setiap hari kita menyusuri jalan-jalan yang sama yang kita lewati, kemudian ketika sedang dalam prayer walk kita melihat hal-hal yang selama ini kita abaikan. Tuhan memperlihatkan tempat yang ramai, dan kelelahan di balik wajah orang yang terlihat sukses. Kita melihat rumah-rumah di mana orang tinggal di bawah satu atap tetapi tidak lagi saling bicara. Kita melihat kecanduan dan penyalahgunaan narkoba serta alkohol. Kita merasakan kecemasan dan ketakutan orang-orang yang sedang menunggu surat-surat imigrasi mereka. Kita merasakan kegelapan rohani yang terasa berat dan nyata.
Tuhan sedang memperlihatkan sesuatu kepada kita. Semua Itu bukan kebetulan, dan itu juga bukan tanda kurang iman.
Visi tidak dimulai dengan melihat suatu pandangan masa depan yang indah. Visi dimulai ketika kita belajar melihat ladang misi dalam terang kebenaran Tuhan. Artinya, bahwa kita dapat melihat betapa dalamnya kehancuran itu, tanpa kehilangan pandangan akan hadirat Tuhan, janji-Nya, dan pekerjaan-Nya.
Ada dua cara kita gagal melihat.
Pertama: penyangkalan:
"Kita tidak punya masalah."
"Keluarga kita baik-baik saja."
"Orang-orang masih datang ke gereja, jadi pasti semuanya baik."
Kedua: keputusasaan:
"Masalahnya terlalu besar."
"Keluarga ini tidak akan pernah berubah."
"Kegelapannya terlalu besar, gereja kita tidak bisa membuat perbedaan."
Penyangkalan membuat kita tidak mau menghadapi apa yang perlu dipulihkan. Keputusasaan membuat kita tidak mau menanggapi apa yang Tuhan taruh di depan kita. Visi Kristen menolak keduanya.
Tembok itu memang nyata. Tetapi bukan keseluruhan dari kenyataannya.
Apa yang kita lihat saat prayer walk itu benar. Tetapi itu bukan seluruh kebenaran. Tuhan yang sama yang berkata "Ketahuilah" kepada Yosua juga hadir di jalan-jalan kita. Kegelapan yang kita lihat adalah tempat di mana Injil seharusnya bersinar. Yesus tidak datang ke dunia yang terlihat siap menyambut-Nya. Dia datang ke dalam kegelapan, dan "kegelapan itu tidak menguasainya" (Yohanes 1:5).
Pendalaman
"Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya."
Yohanes 1:5 (TB)
Dengan melihat kegelapan itu dengan jelas bukanlah sesuatu tanda tidak percaya. Yang menjadi masalah adalah kalau kita hanya melihat kegelapan itu saja.
PIkirkan Hari Ini
Tuhan, perlihatkan kepada kami apa yang runtuh, tetapi jangan biarkan keruntuhan itu menjadi satu-satunya hal yang kami lihat.
Tanyakan Pada Diri Sendiri
Dikala prayer walk, di bagian manakah aku cenderung menyangkal ("tidak separah itulah") atau cenderung putus asa ("mana bisa berubah?)
Lakukan: Melihat Gambaran Seutuhnya
Ketika kita melihat keluarga yang sedang bergumul, naluri pertama kita adalah mencari siapa yang salah. "Suami/istriku yang jadi masalah." "Anak kami yang jadi masalah." Tetapi keluarga bukan hanya kumpulan pribadi perorangan Kita terhubung satu sama lain secara emosi. Ketika satu orang cemas, semua orang ikut merasakannya. Ketegangan menyebar ke seluruh rumah. Sering kali, orang yang terlihat paling bergumul sebenarnya sedang memikul tekanan yang dimiliki semua orang.
Hal yang sama juga terjadi di gereja. Seluruh jemaat memiliki kehidupan emosi bersama. Ketika kecemasan meningkat, manusia cenderung bereaksi daripada merenung. Mereka menyalahkan, memihak, menjauh, atau terburu-buru memperbaiki masalah yang terlihat di permukaan saja. Gereja yang sehat bukan gereja yang tidak punya masalah. Gereja yang sehat adalah gereja yang menanggapi masalah dengan jernih, bukan dengan panik. Jemaat dapat mengakui rasa sakit tanpa dikuasai oleh rasa takut.
Inilah visi yang diharapkan setelah kita mengadakan prayer walk. Sebelum kita memutuskan siapa dan apa yang perlu "diperbaiki", entah di rumah ataupun di gereja, marilah kita meminta tolong kepada Tuhan untuk dapat melihat gambaran yang seutuhnya, termasuk bagian kita sendiri yang ada di dalamnya.
Minggu ini, di rumahmu, tanyakan:
Apa yang sedang terjadi di antara kita, bukan hanya pada satu orang?
Apa yang kita takutkan?
Rasa sakit apa yang sudah tidak lagi kita perdulikan?
Untuk gereja kita, tanyakan:
Kegelapan apakah yang dinyatakan lewat prayer walk yang selama ini kita hindari?
Di bagian manakah kita sebagai gereja bereaksi karena cemas, bukan karena melihat dengan jelas?
Di manakah kita melihat tanda-tanda bahwa Tuhan sudah bekerja?
Tuliskan satu "tembok" yang kamu lihat dan satu tanda hadirat Tuhan yang kamu lihat. Tulis keduanya di halaman yang sama.
Doa
Tuhan, terima kasih karena Engkau membuka mata kami lewat prayer walk. Kami melihat kegelapan yang selama ini kami abaikan, dan kami tidak mau berpaling daripadanya. Jagalah kami dari penyangkalan dan kepura-puraan bahwa semuanya baik-baik saja, dan dari keputusasaan yang berkata tidak ada yang bisa berubah. Tolong kami melihat keluarga dan gereja kami seperti Engkau melihatnya, dengan jujur dan dengan pengharapan. Tunjukkan kepada kami apa saja yang kami tambah-tambahkan kepada permasalahan atas keluhan-keluhan kami. Dan jangan biarkan kami lupa bahwa Engkau hadir di balik setiap tembok yang kami lihat. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.

